Owner: Gang Cemara URL:http://gang-cemara.blogspot.com/ Join Date: Sun, 30 Sep 2007 14:46:42 -0500 Rating:0 Site Description: mencoba berbagi sedikit pengetahuan tentang lingkungan hidup, baik SDA maupun SDM-nya Site statistics:Click here
Asinnya Air Laut 2007-10-27 16:12:00 Namun, tak banyak yang tahu bahwa garam yang terkandung dalam air laut itu memiliki asal-muasal yang hampir sama dengan usia bumi. Ketika bumi terbentuk, gas yang dimuntahkan dari perut bumi melepaskan ion garam yang mencapai samudra lewat air hujan atau erosi.Kini salinitas laut pada dasarnya konstan. "Jumlah ion yang dipindahkan atau dimasukkan tidak terlalu besar," kata McKinley. "Sumber dan pengambilan ion yang ada sekarang ini terlalu kecil, sedangkan penampungannya amat besar sehingga ion itu tetap berada dalam air."Tiap tahun, sungai yang mengalir ke laut cuma membawa 0,00005 persen total garam yang ada di laut.Pada danau, pergerakan air dan garam yang terlarut di dalamnya relatif cepat sehingga membuat air tetap tawar. Misalnya, di Danau Superior di Kanada, air hujan dan ionnya akan berada di dalam danau selama 200 tahun, jauh lebih cepat ketimbang 100-200 juta tahun tertimbun di lautan. "Bahkan jika ada akumulasi ion dalam sebuah danau, itu akan segera terbilas," kata McKinley
Ironi Persoalan Air Bersih 2007-10-27 16:07:00 Indonesia memiliki enam persen potensi air dunia atau 21 persen potensi air di Asia Pasifik. Tapi ironisnya, setiap tahun Indonesia mengalami krisis air bersih secara kualitas maupun kuantitas. Sumber air alam semakin menyusut dan air bersih olahan semakin mahal. Sebanyak 13 sungai yang melewati ibukota Indonesia bahkan tercemar bakteri E-coli, termasuk 70 persen air tanahnya.Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat akses pelayanan air bersih baru mencapai 39 persen penduduk perkotaan. Di perkotaan yang padat penduduk, dengan rumah-rumah penduduk yang berdekatan, menyebabkan pembuangan kotoran manusia, sampah, dan air limbah rumah tangga mencemari sumber air tanah sehingga tidak layak sebagai air bersih untuk minum dan memasak maupun mencuci bahan makanan.Bagi masyarakat miskin perkotaan yang tidak mampu berlangganan air bersih dan PAM atau tidak mampu membeli air mineral dalam botol atau isi ulang, berpotensi menderita penyakit 'water borne disease'. Seperti halnya
Dilema Kompensasi Menjaga Hutan 2007-10-27 16:01:00 Indonesia adalah contoh negeri yang telah dan sedang menjadi korban pemanasan global dan perubahan iklim. Bangsa ini telah dituduh menghancurkan hutan yang penting bagi komunitas global. Namun, Indonesia juga sasaran sumber bahan mentah jangka panjang demi pertumbuhan kompleks industri global.Banyak negara berkembang mengalami situasi yang sama dengan Indonesia. Lantas, siapa yang harus mengakhiri penderitaan ini? Jauh-jauh hari, pemerintah Indonesia sudah mendengungkan wacana bahwa penjagaan hutan di negara-negara berkembang demi mencegah perubahan iklim harus mendapatkan kompensasi layak dari negara-negara maju yang menikmati penyerapan karbondioksida yang dihasilkan hutan-hutan tersebut. selanjutnya Read more:Dilema
Beberapa Manfaat dari Terumbu Karang adalah Ekonomi dan Ekologis 2007-10-27 15:55:00 Keberadaan terumbu karang (coral) memiliki manfaat ekonomis dan ekologis, karena menjadi tempat berkembang biaknya habitat laut. "Secara ekonomis, terumbu karang dapat menjadi tempat berkembangbiaknya habitat laut, seperti ikan yang menjadi sumber penghidupan nelayan tradisional," kata Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS), Ida Bagus Putra Sidharta di Sanur, Bali.Ia mengatakan, terumbu karang yang subur dapat menjadi kekayaan laut dan menjadi daya tarik wisata. "Apalagi Sanur adalah kawasan wisata andalan di Kota Denpasar, sehingga keberadaan terumbu karang tersebut menjadi nilai tambah," ucapnya.Sedangkan secara ekologis, selain menjadi habitat beranekaragam kehidupan laut, terumbu karang dapat meredam gelombang pasang atau tsunami, fungsinya sama dengan keberadaan hutan bakau (manggrove).Sementara di tempat terpisah Sukma Dewi, praktisi lingkungan mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan rehabilitasi terumbu karang di Pulau Serangan dan pantai Sanur sebagai "pilot project"
Manajemen bencana alam belum cukup mengandalakan TIK 2007-11-07 00:16:00 Manajemen bencana alam untuk meminimalisasi jumlah korban dengan mengandalakan aplikasi teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) dinilai belum cukup. "aplikasi teknologi harus ditunjang dengan kemampuan sumberdaya manusia dalam rantai peringatan dini hingga evakuasi," kata Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Dep. Komunikasi dan Informatika Cahyana Ahmadjayadi pada Seminar Manajemen Bencana Alam "Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Manajemen Bencana Alam" yang diselenggarakan Masyarakat telematika Indoensia (Mastel) di Jakarta, Selasa 30 Oktober.Selain kemampuan SDM yang berwawasan teknologi, koordinasi menjadi salah satu persoalan yang harus diatasi demi keberhasilan penanganan; sayangnya, seperti diakui oleh beberapa pembicara, koordinasi tidak mudah dilakukan di lapangan. selanjutnya
Umat Islam Indonesia Kabar Gembira Bagi Bumi 2007-11-22 00:15:00 ''Kalau Indonesia
dekat, saya datang tiap hari ke sini,'' kata Fazlun M Khalid, pendiri Islam
ic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) di Birmingham, Inggris. Pekan lalu, kakek enam cucu ini hadir di Indonesia. Berikut sebagian pandangan penyuka masakan padang yang murah senyum itu:Bagaimana pandangan Anda tentang Indonesia?Saya pikir Indonesia memberikan kabar yang menggembirakan bagi masyarakat internasional. Di luar bencana tsunami, gempa bumi, banjir lumpur, tenggelamnya kapal laut, dan penggundulan hutan, tahun ini Indonesia memberikan kabar yang menggembirakan. Yang saya maksud adalah keluarnya fatwa mengenai pemanasan global pada pertengahan tahun ini dan dua fatwa pada tahun sebelumnya yang menentang pembakaran dan penggundulan hutan. Menurut saya, fatwa ini sangat luar biasa dan menunjukkan betapa ulama Indonesia telah membuat lompatan maju dibanding ulama di negara Islam lainnya.Fatwa ini jelas merupakan kekuatan yang luar biasa. Karena setelah Islam ke
Indonesia - Emiter Karbon Ketiga di Dunia 2007-11-21 02:33:00 Laporan penelitian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wetland International dan Delft Hydraulics pada awal November 2006 menempatkan Indonesia
sebagai negara penghasil emisi zat asam arang atau karbondioksida (CO2) ketiga dunia, setelah Amerika Serikat dan China.Dalam deklarasi jumlah emisi CO2 suatu negara adalah janggal untuk memasukkan unsur hutan, karena kebakaran hutan selama ini dianggap sebagai bencana alam.Tapi, stigma buruk yang menyebutkan Indonesia sebagai penghasil emisi CO2 terbesa tersebut dirujuk oleh LSM lainnya tanpa kajian dan tanggapan yang memadai.Hal ini perlu diwaspadai terutama dalam menyambut pelaksanaan Konperensi Para Pihak (Conference on Parties)-13 sekaligus Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Cuaca (United Nations for Climate Cahnge Conference/UNFCCC) di Bali pada Desember 2007. Menurut Wetland International (WI), akibat kebakaran hutan tahun 1997, 1998, dan 2002 yang menghabiskan lahan hutan antara 1,5 juta dan 2,2 juta hektar, telah diemis
Nanoteknologi Membahayakan Manusia 2007-11-26 18:24:00 Nanoteknologi merupakan suatu terobosan yang bermanfaat bagi manusia. Misalnya meningkatkan efektivitas kerja industri pesawat terbang, robot, komputer, pembersih udara, dll. Namun di sisi yang lain, kehadiran nanoteknologi bisa beresiko bagi manusia. Dikutip dari AFP, Senin (26/11/2007), dua penelitian yang melibatkan lebih dari 363 ahli nanoteknologi dan insinyur menjumpai sisi lain dari kespektakuleran nanoteknologi. Nanoteknologi disinyalir akan memperparah polusi, dan membahayakan kesehatan.Perdebatan pun terjadi antar para ahli tentang resiko yang ditimbulkan oleh materi ini dan juga tentang minimnya penelitian dalam bidang ini. Sementara di sisi lain, pihak media pun tak mau ketinggalan, mereka gencar mempromosikan keuntungan dari nanoteknologi dan justru mengesampingkan resiko yang mengancam.Para ahli berusaha untuk memfokuskan perhatian pada kemungkinan nanoteknologi membahayakan manusia, yakni partikel yang terhirup ke paru-paru yang disinyalir mengandung racun yang mengancam
Denpasar Diguncang Lagu Hijau 2007-12-13 12:37:00 Konser Save Our Planet di Art Center Denpasar
punya nuansa berbeda. Konser yang ditonton Presiden SBY ini mengusung lagu-lagu bertema lingkungan hidup. Belasan penyanyi dan band papan atas menggoyang sekitar 3 ribu penonton remaja yang hadir.Acara yang digelar selama 2 jam sejak pukul 19.30 Wita ini, dimeriahkan antara lain oleh Slank, Kerispatih, AB Three, Elfas Singer, Titik Puspa, dan Tasya.SBY yang didampingi Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono, dan Mendbudpar Jero Wacik pertama-tama disuguhi lagu Save Our Planet oleh Elfas Singer, yang merupakan ciptaan SBY.Pemusik sufi Debu bahkan mampu mengajak penonton bertepuk tangan mengiringi lagu mereka yang berjudul Amanat. Penampilan lalu berlanjut dengan Tasya, AB Three, dan Andien bernyanyi berurutan memeriahkan suasana.Tak ketinggalan penyanyi senior Titik Puspa menyanyikan lagu asal Jawa Bara Bubuy Bulan yang digubah berirama komedi. Penonton dan SBY pun tergelak-gelak dibuatnya.Ully Sigar Rusadi dan Paramitha Rusadi dan band mereka tamp